Menunggu Hukuman Kasus Penikaman Terdakwa Paulus Amat Tantoso

oleh -61 views
foto ; Situasi saat terdakwa Paulus Amat Tantoso menjalani sidang.

Batam,Radarpost.co.id_Agenda persidangan terdakwa Paulus Amat Tantoso dengan perkara kasus penganiayaan dan penikaman warga negara asing (WNA), akhirnya kembali di gelar pukul 10:20 WIB. Sementara SIPP PN Batam menjadwalkan pukul 09 : 00 wib, berbeda dengan sidang sebelumnya yang selalu digelar lebih awal.

Sidang dipimpin oleh Majelis Hakim yaitu Yona Lamerrosa Ketaren, Taufik Nainggolan dan Dwi Nuramanu.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Rumondang Manurung membacakan penolakan nota keberatan (eksepsi) dari penasehat hukum terdakwa.

“Jaksa menolak eksepsi dari penasehat hukum terdakwa, dan meminta Majelis Hakim melanjutkan sidang pemeriksaan perkara pidana terdakwa,” kata Rumondang dalam persidangan. Rabu (21/8/2019).

Sidang berlangsung sekitar 3 menit, dan Hakim ketua, Yona memutuskan persidangan dilanjutkan minggu depan untuk pemeriksaan perkara pidana terdakwa.

“Sidang kita tutup, dan dilanjutkan minggu depan untuk pemeriksaan saksi,” kata Yona.

BACA JUGA ; Tikam WN Malaysia, Paulus Amat Tantoso Terancam 5 Tahun Penjara

Pada sidang sebelumnya, PH terdakwa Nur Wafiq Warodat, menilai surat dakwaan Penuntut Umum menjerat menggunakan pasal-pasal delik penganiayaan dengan perencanaan yakni Pasal 355 ayat (1), Pasal 353 ayat (1) dan (2) Kitab Undang-undang Hukum Pidana terlalu berlebihan pada terdakwa.

“Hal yang kami nilai terlalu berlebihan terkait penerapan Pasal 355 ayat (1), Pasal 353 ayat (1) dan (2) KUHP tentang penganiayaan dengan perencanaan tersebut antara lain akibat adanya suatu pengabaian fakta, bahwa tidak ada sikap bathin pada diri terdakwa dalam merencanakan penganiayaan tersebut,” ujarnya Wafid dalam persidangan.

Wafid menjelaskan seharusnya dalam penegakan hukum kepada warga Negaranya sendiri mengedepankan hal positif pada diri tersangka.

“Menurut hemat kami penggunaan Pasal 355 ayat (1), Pasal 353 ayat (1) dan (2) KUHP terhadap diri terdakwa justru mengesankan “semangat yang berlebihan” dalam upaya penegakan hukum oleh Negara terhadap warganya sendiri, sehingga mengabaikan prinsip Appreciation of Value terhadap hal-hal positif pada diri dan tindakan terdakwa,” jelas Nur Wafid.

Terkait kasus penikaman terdakwa Paulus Amat Tantoso dalam konferensi pers Polresta Barelang menyampaikan perbuatan terdakwa adalah dikenakan pasal 351 ayat (2) KUHP dengan ancaman 5 tahun penjara.

“Tersangka dikenakan pasal 351 ayat (2) KUHP ancaman 5 penjara. Sedangkan untuk barang bukti. Kita amankan sebuah Pisau Sangkur yang dingunakan tersangka untuk menikam korban dan juga baju tersangka dan pelaku,” kata Kapolresta Barelang, Kombes Pol Hengki beberapa waktu lalu.

Sementara, JPU menjerat terdakwa dengan dakwaan Primer pasal 355 Ayat (1), 353 Ayat (2), 353 Ayat(1), 351 Ayat (2) KUHP dan dakwaan Subsidair pasal 351 Ayat (1) KUHP.

BACA JUGA ; Ini Indentitas WNA Korban Penikaman Paulus Amat Tantoso

Adapun uraian JPU untuk menjelaskan
Kronologis Paulus Amat Tantoso, pada Rabu (10/4) sekitar pukul 18.40 wib atau bertempat di  Wey Wey  Seafud Restaurant Harbour Bay Kec. Batu Ampar telah melakukan Penganiayaan berat terhadap warga negara Malaysia, dikutip dari situs resmi SIPP PN Batam.

Berawal Amat Tantoso mengetahui keuangan perusahaan Money Changer miliknya pada bulan terakhir mengalami kekurangan uang tunai, sehingga ia  memeriksa pembukuan, pada saat pemeriksaan tersebut terdakwa baru menyadari bahwa sebagian besar dana Money Changer terdakwa  berada ditangan saksi korban HONG KOON CHENG Als CELVIN akibat kerjasama antara saksi korban dengan karyawan nya yang bernama MINA Als Apong sekira Rp. 30. 000.000.000 (tiga puluh miliyar).

Pada saat itu ia (Amat Tantoso), juga mendapat laporan dari saksi Mina Als Apong  bahwa cek yang diberikan oleh saksi korban senilai Rp. 7. 000.000.000 (tujuh miliyar rupiah) yang dimaksudkan sebagai pembayaran ternyata belum ditandatangani oleh saksi korban.

Kemudian Sekitar pukul 17.50 Wib Ia menghubungi  saksi korban HONG KOON CHENG Als CELVIN menggunakan handphone milik saksi MINA Als Apong  mengundang saksi korban datang di kantor Money Changer PT. HOSANA EXCHANG milik terdakwa   di  Komplek Pasar Bumi Indah No. 25.

Namun saksi korban  menolak untuk datang hadir dikantor milik terdakwa  selanjutnya terdakwa bertanya keberadaan saksi korban, lalu saksi korban memberitahukan bahwa saksi korban sedang berada di WEY – WEY SEAFOOD RESTAURANT Harbourbay.

Dan pada jam 18.40 wib ia tiba di PT. Hosana Exchanger (Hai-Hai Money Changer) Komplek Bumi Indah Blok A No.25 Kecamatan Lubuk Baja –Kota Batam.

Selanjutnya mengajak saksi Antonius Als anton dan yang bernama Ujang dengan alasan untuk menangkap orang , kemudian terdakwa   melihat 1(satu) bilah pisau jenis sangkur diatas meja security sambil mengatakan saya ambil dulu pisau ini untuk menakut-nakuti orang .

Bahwa atas permintaan Amat Tantoso tersebut saksi Antonius Als Anton bersama dengan yang bernama Ujang menyanggupinya selanjutnya naik kedalam mobil bersama-sama dengan istri terdakwa   yaitu saksi CIE ENG, dan saksi MINA Als Apong berangkat menuju WEY-WEY SEAFOOD RESTAURANT Harbourbay untuk bertemu dengan saksi korban.

Lalu sekitar pukul 19.00 Wib sesampainya di WEY-WEY SEAFOOD tersebut , terdakwa   bertemu dengan saksi korban yang menawarkan terdakwa   makan sehingga duduk bersama lalu terdakwa   membahas dana money changer dan menanyakan kenapa cek tidak ditandatangani lalu ia menyodorkan satu lembar cek milik saksi korban senilai Rp. 7.000.000.000,- (tujuh miliyar rupiah) untuk ditandatangani agar dapat dicairkan, namun saksi korban  menolak  untuk  menandatanganinya.

Bahwa karena saksi korban  menolak menandatangani cek tersebut , lalu terdakwa meminta paspor saksi korban dengan maksud sebagai jaminan agar korban tidak melarikan diri dari wilayah Indonesia, namun saksi korban juga menolak permintaan dari terdakwa   bahkan saksi korban melemparkan mangkok makanan yang berisi saos kepiting kebadan Amat Tantosi yang mengenai bahu bagian kirinya menyebabkan baju terdakwa   kotor akibat kuah soas kepiting tersebut .

Atas perbuatan saksi korban tersebut mengakibatkan emosi terdakwa  terpancing oleh karena uang hasil usaha terdakwa   selama 20 (dua) tahun sebesar Rp. 30.000.000.000,- (tiga puluh miliyar rupiah) hilang di tipu oleh  saksi korban  HONG  KOON CHENG Als CELVIN yang bekerja saka dengan saksi Mina Als Apong (karyawan terdakwa  ).

BACA JUGA ; Ini 5 Fakta Super Paulus Amat tantoso, Tikam WNA Status Tahanan Rumah

Selain itu Bahwa ia beranggapan bahwa uang yang berada di tangan saksi korban diduga tidak akan dikembalikan oleh saksi korban, dan hal ini mengakibatkan  pikiran terdakwa  menjadi kosong , dan seketika secara spontan terdakwa berdiri lalu mengambil sebilah pisau bergerigi (jenis sangkur)  dari pinggang samping kanan  dengan menggunakan tangan kiri.

Lalu ia ( Amat Tantoso) memindahkan Pisau tersebut ke tangan kanannya, lalu menarik rambut saksi korban sambil menghujamkan pisau tersebut kearah dada sebelah kiri, namun oleh saksi korban menangkis hujaman tersebut, kemudian ia kembali menghujamkan Pisau tersebut kambali kearah dada saksi korban , dan oleh saksi korban hujaman tersebut kembali di tangkis, hingga saksi korban  terjatuh.

Bahwa  kemudian pada saat saksi korban  hendak berdiri, terdakwa  kembali menghujamkan Pisau yang dipegangnya kearah pinggang sebelah kiri saksi korban. Bahwa melihat terdakwa   menghujamkan pisau ke arah saudara saksi korban, oleh saksi Antonius Als Anton  dan saksi CIE ENG (istri terdakwa  ) sempat menahan amat tantoso.   untuk tidak menghujamkan pisau kepada saksi korban ,

Tapi terdakwa tidak berhasil dihentikan dan terdakwa   berhasil menusuk pinggang sebelah kiri saksi korban dengan menggunakan pisau yang dipegang oleh terdakwa   dan mengakibatkan saksi korban mengalami luka robek ± 5 (lima) cm sesuai visum et repertum Nomor :23/RSE-BTM KOTA/Visum/IV/2019 tanggal 15 April 2019 yang dibuat dan ditandatangai mengingat sumpah jabatan oleh dr. Yolanda pada Rumah Sakit Santa Elisabet Batam.

Setelah melakukan penganiayan tersebut ia langsung menyerahkan diri ke pihak Kepolisian.

Terkait penolakan JPU atas eksepsi yang diajukan Penasehat Hukum terdakwa Paulus Amat Tantoso. Tim Penasehat Hukum Paulus Amat Tantoso berjanji akan berupaya maksimal dalam persidangan untuk membuktikan bahwa tidak ada sikap bathin pada diri terdakwa untuk melakukan perencanaan penganiayaan terhadap korban HONG KOON CHENG Als CELVIN warga negara Malaysia.

“Jika eksepsi tersebut ditolak oleh JPU maka Tim Penasehat Hukum Terdakwa berjanji akan berupaya maksimal dalam persidangan guna membuktikan bahwa tidak ada sikap bathin pada diri Terdakwa untuk melakukan perencanaan penganiayaan, sehingga diharapkan Majelis Hakim mampu menyimpulkan, dan pada akhirnya memutuskan bahwa Terdakwa tidak terbukti melanggar ketentuan Pasal 355 dan 353 KUHP tentang penganiayaan berat yang diawali perencanaan,” kata Nur Wafiq Warodat kepada Silabuskepri.co.id. Rabu,(21/8/2019) melalui aplikasi WhatsAppnya.

Wafid menjelaskan, pihaknya sejak awal menilai dakwaan JPU lengkap dan cermat. Namun pihaknya meminta JPU menentukan pasal dakwaan juga melihat dari sikap bathin terdakwa sebagai warga Negara.

“Sejak awal kami memang menilai dakwaan JPU telah lengkap dan cermat, shg dalam eksepsi kami menggugah dan meminta agar JPU tidak menentukan pasal-pasal dakwaan sekedar mengacu pada beratnya ancaman semata tanpa mempertimbangkan sikap bathin Terdakwa yang mengesankan Negara bertindak berlebihan terhadap warganya sendiri,” pungkasnya.

(***)

 

sumber : Silabuskepri.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *